Wisata bandung

Bandung Selatan, Keindahan yang Tersembunyi

Kompas.com - 24/08/2011, 16:29 WIB

Oleh: Try Hariyono

TIDAK salah jika kolumnis beken, MAW Brouwer, menyebut "alam Parahyangan dibuat Tuhan ketika sedang tersenyum". Alamnya begitu indah. Keindahan itu, antara lain, terlihat di kawasan Bandung selatan.

Perpaduan pegunungan dan bukit-bukit yang hijau dengan perkebunan teh serta danau berair jernih menjadi panorama yang sangat menawan hati. Keindahan ini masih ditambah lagi dengan suara gemercik air sungai yang membelah berbagai kawasan di Bandung selatan.

Sangat sayang jika Bandung selatan diabaikan dalam liburan Lebaran mendatang. Selain jaraknya relatif dekat, sekitar 157 kilometer dari Jakarta, obyek wisata yang bisa dinikmati pun sangat beragam.

Memang untuk mencapai Bandung selatan, kita akan dihadang dulu oleh kemacetan parah, baik saat keluar melalui Pintu Tol Kopo, Mohammad Toha, maupun Buahbatu. Antrean angkutan kota serta kondisi jalan yang tak terlampau mulus akan cukup menyiksa.

Namun, kondisi itu tak terlampau jauh. Selepas Kecamatan Soreang yang merupakan ibu kota Kabupaten Bandung, panorama indah dan udara segar akan segera bisa dinikmati. Di kiri-kanan jalan bisa dinikmati pemandangan beragam sayuran, mulai dari daun bawang, kol, tomat, hingga tanaman palawija lain.

Di sekitar Soreang menuju arah Ciwidey juga bisa dinikmati wisata memetik stroberi. Pengunjung dipersilakan memetik stroberi dan berat buah yang dipetik akan ditimbang kemudian. Harga sangat terjangkau dan pasti akan memberi kesan tersendiri bagi anak-anak.

Lepas dari Soreang dan memasuki Ciwidey, mata kita akan dimanjakan oleh hamparan perkebunan teh yang sangat memesona. Berbeda dengan panorama di Puncak, Bogor, hamparan teh yang bisa dilihat sangat luas dan kondisi perbukitannya sangat beragam.

Di tengah-tengah kawasan ini, kita bisa menikmati pemandian air panas Cimanggu dan Ciwalini. Keduanya memiliki keunikan masing-masing.

Jika mau menikmati panorama yang herbeda, bisa menikmati Kawah Putih, yakni danau kawah dari Gunung Patuha yang ketinggiannya mencapai 2.334 meter di atas permukaan laut. Uniknya, air danau kawah tersebut sangat putih dan kita bisa bermain-main hingga ke tepi danau kawah.

Selepas dari Kawah Putih atau bermain di pemandian air panas, perjalanan bisa dilanjutkan ke Situ Patengan, sebuah danau alam di kaki gunung. Selain panoramanya sangat indah-dikelilingi perkebunan teh Rancabali-dan udaranya sejuk, juga tersedia perahu yang bisa disewa untuk mengelilingi danau.

Di kawasan ini juga terdapat kawasan perkemahan Ranca Upas yang di sekitarnya terdapat penangkaran rusa. Namun, jika hari sudah terlampau sore, ada baiknya segera mencari hotel atau cottage sesuai selera karena pada musim-musim tertentu, biasanya pada sore hari, kabut sangat tebal dan jarak pandang terbatas.

Perkebunan Malabar

Masih di Bandung selatan, tetapi arah herbeda, terdapat perkebunan teh Malabar di Kecamatan Pangalengan. Panorama alamnya sedikit berbeda dengan di kawasan Ciwidey.

Di Pangalengan, di tengah-tengah hamparan perkebunan teh, terdapat beberapa bangunan tua bekas administratur perkebunan teh zaman kolonial Belanda yang masih terdwat baik hingga kini. Beberapa bangunan juga dijadikan guest house bagi wisatawan.

Di kawasan ini pun terdapat situ atau danau Cileunca yang dikelilingi bukit dengan latar belakang pegunungan yang indah. Terdapat pula pemandian air panas Cibolang yang terletak di kaki Gunung Wayang.

Jangan lupa, cicipi susu segar Pangalengan karena di kawasan ini banyak peternakan sapi perah, bahkan industri susu kemasan. Berbagai makanan yang terbuat dari susu, seperti permen dan tahu susu, juga tersedia dan bisa dijadikan oleh-oleh yang unik.

Pendek kata, banyak keunikan yang bisa dinikmati di Bandung selatan. Tidak salah jika ada yang menyebut, Bandung selatan memiliki keindahan yang tersembunyi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau